Budidaya Cabai: Satu Kali Kocor, Satu Kali Pemberian Pupuk Susulan Hasil Sangat Menawan.
Karlina Indah / 04 Jun 2025
Di Muntilan, Kabupaten Magelang, terdapat seorang petani inspiratif bernama Pak Karyadi yang berhasil membudidayakan cabai varietas Brengos dengan hasil yang luar biasa. Dengan luas lahan sekitar 2.000 meter persegi, saat ini beliau sudah panen sebanyak lima kali, sebuah capaian yang mengundang decak kagum, terutama karena cabai ditanam pada musim ekstrem dengan tingkat kegagalan yang sangat minim. Dari 3.500 tanaman, di awal tanam hanya perlu sulam sekitar 100 tanaman. Ada yang perlu di sulam tapi persentasinya sangat minim. Keberhasilan Pak Karyadi bukan datang secara instan, melainkan buah dari ketekunan, ketelitian, dan penerapan sistem pengolahan lahan yang baik dan berkelanjutan. Menurutnya, kunci utama terletak pada kualitas tanah. Beliau sangat memperhatikan tahapan olah lahan sebelum proses tanam dimulai. Bagaiman system olah lahan yang beliau lakukan? Baca penjelasan lengkapnya di bawah ini:
Tanah Bagus Kunci Pertumbuhan Tanaman
Setelah panen jagung sebagai tanaman di musim sebelumnya, Pak Karyadi memberikan jeda waktu sekitar tiga bulan untuk menetralkan tanah. Proses ini dimulai dengan membersihkan sisa tanaman jagung, lalu membajak lahan sebanyak dua kali. Setelah proses bajak, lahan digenangi air selama setengah bulan tanpa membiarkannya kering. Tujuan dari penggenangan adalah untuk mematikan benih gulma, jamur, serta hama, sekaligus melarutkan unsur hara dalam tanah. Setelah itu, lahan dikeringkan kembali dan dibiarkan selama dua bulan hingga rumput tumbuh sebagai penanda lahan siap digunakan. Baru kemudian dilakukan bajak ulang, dicangkul, dan dibuat bedengan. Menariknya, pada tahap awal pembuatan bedengan, Pak Karyadi tidak menggunakan pupuk kandang, beliau hanya mengandalkan pupuk kimia berupa Phonska dan pupuk organic merk dagang Petroganik tanpa tambahan dolomit. Setelah bedengan setengah jadi, beliau menabur 16 sak Petroganik dan 4 sak Phonska. Setelah bedengan jadi lalu memasang mulsa dan kembali melakukan pendiaman lahan selama satu minggu. Pada lubang tanam, beliau menambahkan campuran pupuk berupa 2 sak Phonska Plus, 2 sak TSP, dan 4 sak Petroganik yang dibagi rata di setiap lubang tanam. Lubang tanam dibuat dalam agar pupuk kimia tidak langsung mengenai akar, sementara Petroganik ditempatkan di lapisan paling atas untuk menghindari kontak langsung antara pupuk kimia dengan akar. Dengan pendekatan ini, Pak Karyadi berhasil menciptakan lingkungan tumbuh yang ideal untuk cabai Brengos, sekalipun menghadapi cuaca ekstrem. Inilah bukti bahwa teknik olah lahan yang tepat mampu menghasilkan panen melimpah dan berkualitas.
Perawatan Sederhana Hasil Luar Biasa
Perawatan tanaman cabai Brengos di lahan Pak Kayadi dilakukan dengan cermat dan penuh perhitungan. Setelah melalui tahapan pengolahan lahan yang intensif, tahap berikutnya adalah pemeliharaan tanaman agar tetap sehat dan produktif, terutama dalam menghadapi musim yang tidak menentu ini. Perawatan berupa pemberian pupuk susulan berupa Phonska plus sebanyak 50 kg untuk 3.500 tanaman, sampai saat ini pupuk susulan baru diberikan satu kali Ketika tanaman mulai berbunga dan mulai berbuah. Pada fase ini, kebutuhan nutrisi tanaman meningkat tajam karena energi tanaman difokuskan untuk pembentukan bunga dan buah, sehingga perlu dukungan unsur hara makro yang cukup. Selain itu, Pak Kayadi juga melakukan pengocoran sebanyak satu kali menggunakan campuran beberapa jenis pupuk dan nutrisi tanaman. Dalam setiap ember berisi 10 liter air, beliau mencampurkan 1 sendok makan kalsium merk dagang CALBOVIT, 1 sendok makan Phonska Plus, dan 1 tutup botol kalium merk dagang KALINET. Pengocoran ini bertujuan melarutkan dan mengoptimalkan penyerapan pupuk susulan yang telah diberikan sebelumnya melalui tanah. Untuk menjaga keseimbangan pH tanah dan memperbaiki struktur tanah, Pak Karyadi rutin memberikan dolomit sebanyak 1 sendok makan per batang, dengan interval sebulan sekali. Pemberian dolomit ini penting untuk meningkatkan ketersediaan unsur magnesium dan kalsium, serta menetralkan keasaman tanah yang bisa memengaruhi penyerapan nutrisi tanaman.
Di musim kemarau yang masih sering hujan seperti sekarang, serangan jamur menjadi ancaman utama bagi tanaman cabai. Oleh karena itu, selain perawatan di atas Pak Karyadi fokus pada pengendalian penyakit jamur dengan menyemprotkan fungisida secara bergiliran seperti mankozeb, ridomil gold, dan Amistartop. Untuk hama kutu, beliau menggunakan insektisida seperti Demolish atau Supemec. Menariknya, dosis yang digunakan tergolong rendah, tetapi penyemprotan dilakukan secara rutin, yakni sekali dalam seminggu. Agar tanaman tetap mendapatkan asupan nutrisi selama proses perawatan, beliau juga menambahkan Kalinet ke dalam larutan semprot serta kalsium merk dagang CALHA. Dengan metode perawatan yang konsisten, meskipun sederhana, Pak Karyadi berhasil menjaga kesehatan tanaman dan memastikan hasil panen tetap optimal meski kondisi cuaca tidak menentu.
Pemilihan Air yang Tepat untuk Budidaya Cabai: Kunci Kesehatan Tanaman
Dalam budidaya cabai, pemilihan air menjadi salah satu faktor krusial yang kerap dianggap sepele. Padahal, kualitas air sangat memengaruhi kesehatan dan produktivitas tanaman. Pak Karyadi adalah contoh nyata bagaimana perhatian terhadap kualitas air mampu mendukung keberhasilan panen. Pak Karyadi secara khusus menggunakan air sumur untuk kocor dan semprot tanaman cabainya. Alasan utamanya adalah karena air sumur cenderung lebih bersih, steril, dan tidak tercemar kotoran atau limbah seperti yang biasa ditemukan pada air sungai. Selain itu, air sumur juga minim kandungan jamur dan bakteri penyebab penyakit, sehingga jauh lebih aman untuk tanaman, terutama pada masa-masa rentan seperti saat pembungaan dan pembentukan buah. Air sungai memang tersedia melimpah dan pastinya dekat dengan lahan, namun dalam praktiknya, air tersebut sering kali membawa partikel lumpur, limbah rumah tangga, atau bahkan residu pestisida dari lahan pertanian lain. Jika digunakan secara terus-menerus, air yang tercemar dapat menyebabkan akumulasi patogen dalam tanah dan meningkatkan risiko penyakit seperti layu fusarium, busuk akar, hingga bercak daun. Melalui pendekatan ini, Pak Karyadi membuktikan bahwa keberhasilan bertani tidak hanya ditentukan oleh benih unggul atau pupuk yang tepat, tetapi juga oleh perhatian terhadap detail sederhana seperti pemilihan air. Kombinasi antara air berkualitas, teknik olah lahan yang tepat, dan perawatan rutin membuat hasil panen cabai Brengos miliknya tetap stabil, bahkan di tengah cuaca yang tidak menentu. Demikian artikel ini di buat, jangan lupa saksikan penjelasan lengkapnya di video berikut ini.